Universitas Muhadi Setiabudi

Mahasiswa PGSD UMUS Brebes Angkat Peran Kesenian dalam Membentuk Jiwa Kepemimpinan

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

BREBES — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes kembali menunjukkan kontribusi akademik-kultural melalui diskusi bertajuk peran kesenian dalam pembentukan jiwa kepemimpinan.

Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa semester 6 ini menegaskan bahwa kesenian tidak sekadar berfungsi sebagai media hiburan, melainkan sebagai instrumen strategis dalam pengembangan karakter dan kepemimpinan generasi muda.

Diskusi tersebut mengkaji beragam bentuk kesenian, baik tradisional maupun modern, seperti tari daerah, musik akustik, hingga teater edukatif. Dalam perspektif pedagogis, kesenian yang kerap dipraktikkan melalui pagelaran tidak hanya menjadi ruang ekspresi estetis, tetapi juga laboratorium sosial yang memungkinkan mahasiswa mengasah kompetensi kepemimpinan secara kontekstual dan aplikatif.

Agung Laksono, mahasiswa PGSD UMUS Brebes yang pernah menjabat sebagai ketua panitia dalam pagelaran seni, menuturkan bahwa proses penyelenggaraan kegiatan seni sarat dengan dinamika kepemimpinan.

“Pagelaran seni mengajarkan kami bagaimana mengelola tim, mengambil keputusan strategis, serta menyelesaikan konflik secara konstruktif. Ini adalah praktik kepemimpinan yang tidak kami dapatkan hanya dari teori di kelas,” ujarnya.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Lebih lanjut, kesenian dinilai memiliki dimensi afektif yang kuat dalam membentuk kepekaan sosial dan emosional mahasiswa. Proses latihan hingga pementasan menuntut adanya kolaborasi, toleransi, serta kemampuan menjaga kohesi tim. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter pemimpin yang humanis, komunikatif, dan adaptif terhadap keberagaman.

Di sisi lain, kesenian juga berperan sebagai medium internalisasi nilai budaya dan identitas lokal. Pemahaman terhadap akar budaya dipandang sebagai elemen esensial dalam membentuk pemimpin yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas kultural yang kuat. Hal ini menjadi relevan di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis identitas lokal generasi muda.

Agung menambahkan bahwa integrasi kesenian dalam pendidikan sangat strategis, khususnya bagi mahasiswa calon guru sekolah dasar. “Guru memiliki peran multidimensional, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembentuk karakter. Kesenian menjadi media yang efektif untuk menumbuhkan kepemimpinan sekaligus kreativitas peserta didik,” jelasnya.

Melalui diskusi ini, mahasiswa diharapkan mampu merekonstruksi pemahaman tentang kepemimpinan yang tidak semata-mata berbasis pada posisi formal, tetapi juga tercermin dalam sikap tanggung jawab, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai tersebut tumbuh secara organik dalam praktik kesenian yang kolaboratif dan reflektif.

Kegiatan ini mengajak seluruh mahasiswa untuk lebih aktif dalam mengapresiasi sekaligus mengaktualisasikan diri melalui kesenian. Seni bukanlah domain eksklusif bagi individu berbakat, melainkan ruang terbuka bagi siapa pun yang bersedia belajar dan berproses. Dalam konteks kehidupan akademik dan profesional, kesenian terbukti memiliki relevansi yang luas—mulai dari penguatan kepekaan sosial, keterampilan komunikasi, hingga pembentukan kepemimpinan yang inklusif.

Partisipasi aktif sebagai pelaku seni juga dipandang penting untuk menumbuhkan disiplin, rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi. Lebih dari itu, keterlibatan mahasiswa dalam kesenian merupakan bentuk nyata kontribusi dalam pelestarian budaya sekaligus pengembangan kreativitas yang berdampak positif bagi dunia pendidikan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Penerimaan Mahasiswa Baru 2025