Universitas Muhadi Setiabudi

Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Akademisi: UMUS Jadi Tim Konsultan Proyek Garam Brebes

Diskusi dalam rangka Investment Challenge (IC) 2025 yang mempertemukan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Brebes, Dra. Tety Yuliana, M.Pd, dengan akademisi Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) menjadi momentum penting dalam merumuskan arah baru pengembangan investasi daerah.

Forum tersebut menghadirkan Prof. Dr. Drs. Pranoto, M.Sc selaku Staf Ahli Rektor, Yan El Rizal Unzi Latirrizqi D, M.Sc selaku Dekan Fakultas PIKES, serta Andi Yulianto, S.Si, M.M perwakilan LP3M UMUS.

Selama ini, Kabupaten Brebes dikenal luas sebagai sentra produksi bawang merah nasional. Namun, potensi strategis sektor pesisir—khususnya produksi garam tambak—belum mendapatkan perhatian optimal. IC 2025 menghadirkan ruang dialog konstruktif antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk menggali peluang investasi berbasis kajian ilmiah, sekaligus memastikan keberlanjutan pembangunan ekonomi lokal.

Dari perspektif akademisi UMUS, terdapat dua aspek utama yang menjadi fokus masukan: teknologi dan lingkungan-sosial. Dari sisi teknologi, pemanfaatan inovasi seperti penggunaan geomembrane guna meningkatkan kualitas garam, digitalisasi sistem distribusi, hingga efisiensi rantai pasok dianggap krusial agar produksi Brebes dapat bersaing di tingkat nasional maupun global. Sementara itu, aspek lingkungan dan sosial menekankan pentingnya menjaga ekosistem pesisir, mitigasi dampak perubahan iklim, serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara sosial-ekologis.

Kepala DPMPTSP, Dra. Tety Yuliana, M.Pd, menyambut baik berbagai masukan dari pihak akademisi. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Brebes berkomitmen memfasilitasi perizinan dan memberikan kemudahan investasi sepanjang memenuhi prinsip keberlanjutan. Pendekatan ini meneguhkan praktik kolaboratif berbasis triple helix—pemerintah, akademisi, dan masyarakat—sebagai fondasi pembangunan daerah.

Diskusi IC 2025 itu tidak semata membicarakan garam sebagai komoditas ekonomi, melainkan merumuskan kerangka pembangunan daerah yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi teknologi modern. Apabila tindak lanjut konkret dapat segera diwujudkan melalui kajian kelayakan, pilot project, hingga penguatan kapasitas petambak, maka produksi garam Brebes berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi baru yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan global.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah, kontribusi akademisi, serta keterlibatan masyarakat pesisir, investasi produksi garam tambak di Brebes berpeluang besar menjadi ikon transformasi ekonomi lokal menuju ketahanan pangan dan energi berbasis potensi daerah pada tahun 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Penerimaan Mahasiswa Baru 2025