Universitas Muhadi Setiabudi

Dari Kampus untuk Desa: KKN UMUS Hadirkan Perencanaan Teknis Plang Arah Jalan, Perkuat Tata Kelola Infrastruktur Kebon Gede

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

PEMALANG – Komitmen mahasiswa dalam membangun desa tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan fisik, tetapi juga melalui penyusunan dokumen perencanaan yang berbasis kajian teknis dan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) yang menyerahkan Dokumen Perencanaan Teknis dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Plang Arah Jalan untuk dua desa di Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, yakni Desa Kebongede dan Peguyangan.

Dokumen tersebut disusun oleh Muhammad Helmi Mustakim, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UMUS, sebagai program kerja Tim KKN Bantarbolang yang berorientasi pada penguatan tata kelola pembangunan infrastruktur desa. Penyusunan dokumen dilakukan melalui survei lapangan, identifikasi kebutuhan masyarakat, analisis kondisi eksisting, serta koordinasi bersama Pemerintah Desa Kebon Gede sehingga menghasilkan perencanaan yang komprehensif, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan desa.

Penyerahan dokumen diterima langsung oleh Kepala Desa Kebon Gede sebagai wujud sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mendukung pembangunan berbasis perencanaan. Dokumen ini diharapkan menjadi acuan dalam pembangunan plang arah jalan yang merupakan program kerja kelompok KKN sekaligus menjadi arsip teknis yang dapat dimanfaatkan pemerintah desa pada masa mendatang.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Penyusunan dokumen perencanaan tersebut mencerminkan implementasi tridarma perguruan tinggi melalui pendekatan evidence-based planning, yakni pembangunan yang disusun berdasarkan data lapangan, analisis kebutuhan, dan prinsip akuntabilitas. Pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan desa yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Keberadaan plang arah jalan nantinya diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas masyarakat, memudahkan mobilitas pengguna jalan, memperkuat identitas wilayah, serta mendukung pelayanan publik yang lebih informatif. Infrastruktur informasi ini juga memiliki nilai strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan pengembangan potensi Desa Kebon Gede.

Melalui program ini, mahasiswa KKN UMUS kembali menegaskan perannya sebagai agen perubahan yang tidak hanya membangun secara fisik, tetapi juga menghadirkan solusi akademik yang aplikatif bagi masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi bukti bahwa pembangunan desa akan lebih berdampak ketika didukung oleh perencanaan yang matang dan berbasis ilmu pengetahuan.

Inovasi Olahan Jagung Tingkatkan Daya Saing UMKM, Mahasiswa KKN UMUS Dampingi Produksi Corn Ribs dan Perhitungan HPP

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

TEGAL – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) terus mendorong penguatan sektor usaha mikro melalui program pendampingan berbasis potensi lokal. Kali ini, fokus kegiatan diarahkan pada peningkatan nilai tambah komoditas jagung melalui inovasi produk corn ribs sekaligus pelatihan penyusunan Harga Pokok Produksi (HPP) bagi pelaku UMKM di Desa Margasari.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya nyata untuk mengubah komoditas jagung yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Melalui praktik langsung, mahasiswa KKN memperkenalkan teknik pengolahan corn ribs yang menarik, memiliki cita rasa khas, dan berpotensi menjadi produk unggulan desa.

Tidak hanya pada aspek produksi, mahasiswa juga memberikan pendampingan mengenai manajemen usaha, khususnya cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP). Materi ini dinilai penting agar pelaku UMKM mampu menentukan harga jual secara rasional, menghitung biaya produksi secara akurat, serta memperoleh keuntungan yang berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme pengelolaan usaha sekaligus memperkuat daya saing produk di pasar. 

Antusiasme para pelaku UMKM terlihat selama proses pendampingan berlangsung. Mereka tidak hanya memperoleh keterampilan baru dalam diversifikasi produk berbahan dasar jagung, tetapi juga memahami pentingnya pencatatan biaya produksi sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Pemerintah Desa Margasari menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKN UMUS yang menghadirkan program pemberdayaan berbasis kebutuhan masyarakat. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan pelaku usaha diharapkan mampu melahirkan UMKM yang lebih inovatif, adaptif, dan mandiri dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Melalui kegiatan ini, KKN UMUS kembali menegaskan komitmennya sebagai agen pemberdayaan masyarakat. Pendampingan inovasi produk corn ribs yang dipadukan dengan edukasi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai jual komoditas jagung sekaligus memperkuat kapasitas manajerial UMKM, sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi desa yang lebih berkelanjutan.

UMUS dan Taman Baca Tipar Berkolaborasi Bangun Ekosistem Literasi Berbasis Dongeng Lokal di Margasari

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

TEGAL — .Penguatan budaya literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga menghadirkan bacaan yang dekat dengan kehidupan anak. Berangkat dari semangat tersebut, Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) bersama Taman Baca Tipar membangun kolaborasi melalui Program Literasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengusung pendekatan berbasis dongeng lokal sebagai strategi inovatif meningkatkan minat baca sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter kepada generasi muda.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan kegiatan koordinasi yang berlangsung di Taman Baca Tipar, Desa Margasari, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Sabtu (18/7). Pertemuan dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), mahasiswa KKN UMUS, serta pengelola Taman Baca Tipar, Farkhaeni, guna mematangkan pelaksanaan Festival Mendongeng Anak yang akan menjadi puncak rangkaian program pengabdian masyarakat.

Dalam forum tersebut, seluruh pihak menyepakati konsep kegiatan, jadwal pelaksanaan, sasaran peserta, hingga pembagian tugas agar program mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Festival mendongeng dirancang bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebagai bagian dari gerakan literasi berbasis budaya lokal yang berorientasi pada keberlanjutan.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan budaya baca, Dosen Pembimbing Lapangan KKN UMUS turut menyerahkan bantuan koleksi buku kepada Taman Baca Tipar. Penyerahan tersebut diharapkan dapat memperkaya bahan bacaan serta memperluas akses literasi bagi anak-anak dan masyarakat Desa Margasari.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Kecamatan Margasari sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMUS, Robert Rizki Yono, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan implementasi nyata peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia melalui pengabdian kepada masyarakat.

“Program ini merupakan usaha bersama untuk membangun gerakan literasi berbasis dongeng lokal sebagai bentuk partisipasi aktif dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat di Desa Margasari dan Desa Dukuh Tengah. Bacaan yang dekat dengan budaya lokal diyakini mampu meningkatkan ketertarikan anak untuk membaca sekaligus mengenal identitas budayanya,” ujarnya.

Robert menambahkan, sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem literasi yang adaptif terhadap kebutuhan lokal.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

“Kolaborasi ini merupakan komitmen bersama antara UMUS dan masyarakat. Perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi yang berdampak melalui pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.

Program tersebut juga berangkat dari realitas masih rendahnya kemampuan literasi membaca di Indonesia. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor kemampuan membaca peserta didik Indonesia tercatat sebesar 359, masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai 476. Kondisi tersebut diperkuat dengan meningkatnya intensitas penggunaan gawai oleh anak-anak yang menjadi tantangan tersendiri dalam menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini.

Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN UMUS menghadirkan berbagai inovasi pembelajaran yang tidak berhenti pada pelaksanaan festival. Selama masa pengabdian, mahasiswa berhasil menyusun dua buku dongeng berbasis potensi lokal berjudul Petualangan Marga dan Sari: Jejak Kebaikan di Desa Margasari serta Legenda Suradirana: Jejak Kearifan Lokal Desa Dukuh Tengah. Keduanya dilengkapi dengan modul ajar, bahan ajar, media pembelajaran digital berbentuk flipbook interaktif, serta video animasi yang dapat dimanfaatkan oleh guru, taman baca, maupun masyarakat secara berkelanjutan.

Dari Limbah Menjadi Energi, Mahasiswa KKN UMUS Dampingi UMKM Produksi Briket Tongkol Jagung di Desa Margasari

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

PEMALANG– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) terus menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal melalui program pemberdayaan masyarakat. Salah satu program unggulan diwujudkan dengan pendampingan kepada pelaku UMKM di Desa Margasari Kabupaten Pemalang dalam mengolah limbah tongkol jagung menjadi briket ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.

Program tersebut berangkat dari melimpahnya limbah pertanian pascapanen jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, mahasiswa KKN memperkenalkan teknologi sederhana dalam proses pembuatan briket, mulai dari pengolahan bahan baku, pencetakan, hingga pengeringan produk sehingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Koordinator KKN UMUS menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah organik, tetapi juga mendorong tumbuhnya peluang usaha baru berbasis ekonomi sirkular di tingkat desa. Dengan demikian, masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus keterampilan yang dapat dikembangkan secara mandiri.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Pendampingan juga difokuskan pada penguatan kapasitas UMKM melalui peningkatan kualitas produk, efisiensi proses produksi, serta pengenalan strategi pemasaran agar briket hasil olahan memiliki daya saing di pasar.

Pemerintah Desa Margasari menyambut positif inisiatif tersebut. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dinilai menjadi langkah nyata dalam mengoptimalkan potensi sumber daya lokal sekaligus mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.

Melalui program ini, KKN UMUS menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Pemanfaatan limbah tongkol jagung menjadi briket membuktikan bahwa bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi energi alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat desa. Pendekatan pemberdayaan seperti ini sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Bersinergi Membangun Desa, KKN UMUS Hadirkan Inovasi Lingkungan dan Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

PEMALANG – Komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan tridarma melalui pengabdian kepada masyarakat kembali diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes. Bertempat di Balai Desa Peguyangan, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Selasa (14/7/2026), mahasiswa KKN UMUS secara resmi memaparkan program kerja sebagai langkah awal membangun kolaborasi strategis bersama pemerintah desa dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan.

Mengusung semangat “Bersinergi Membangun Desa”, kegiatan tersebut menjadi forum komunikasi antara mahasiswa, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga untuk menyelaraskan berbagai program pemberdayaan yang telah disusun berdasarkan hasil observasi lapangan dan analisis kebutuhan masyarakat.

Koordinator Desa KKN UMUS Desa Peguyangan, Silfi Nur Indah Sari, menjelaskan bahwa seluruh program kerja dirancang dengan pendekatan partisipatif sehingga mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya pada sektor lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Salah satu inovasi yang menjadi program unggulan adalah Pembuatan Tempat Pembakaran Sampah Minim Asap. Program ini merupakan inovasi sederhana namun memiliki nilai strategis dalam mendukung pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan. Melalui desain pembakaran yang mampu menekan emisi asap, mahasiswa berharap masyarakat dapat mengurangi praktik pembakaran terbuka yang berpotensi mencemari udara sekaligus meningkatkan budaya hidup bersih dan peduli lingkungan.

Selain program lingkungan, mahasiswa juga menghadirkan berbagai program individu sesuai disiplin ilmu masing-masing. Pada sektor pendidikan, mahasiswa akan melaksanakan pendampingan belajar, kegiatan literasi, serta edukasi kreatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menumbuhkan budaya belajar di kalangan siswa.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Di bidang ekonomi, mahasiswa akan memberikan pendampingan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penguatan manajemen usaha, penyusunan strategi pemasaran, pengembangan identitas produk, hingga optimalisasi pemasaran digital. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Desa Peguyangan di era transformasi digital.

Sementara itu, pada bidang kesehatan, mahasiswa dari program studi gizi akan melaksanakan edukasi pencegahan stunting melalui penyuluhan mengenai gizi seimbang, pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil dan balita, serta kampanye pola hidup sehat. Program tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap agenda nasional dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Kegiatan pemaparan program kerja mendapat sambutan positif dari Kepala Desa Peguyangan, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga yang hadir. Diskusi interaktif yang berlangsung menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk berkolaborasi bersama mahasiswa dalam merealisasikan berbagai program yang telah dirancang.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UMUS, Abdul Bashar, S.TP., M.TP., menegaskan bahwa keberhasilan Kuliah Kerja Nyata tidak hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“KKN merupakan ruang implementasi keilmuan mahasiswa untuk menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun desa yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan. Kami berharap seluruh program yang dijalankan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi praktik baik yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Koordinator Desa KKN, Silfi Nur Indah Sari, menambahkan bahwa seluruh mahasiswa berkomitmen menghadirkan program yang aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami ingin KKN menjadi ruang belajar bersama masyarakat. Harapannya, seluruh program yang kami laksanakan dapat menjadi kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat Desa Peguyangan,” ungkapnya.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, KKN UMUS di Desa Peguyangan diharapkan menjadi model pengabdian yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian program kerja, tetapi juga mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mewujudkan desa yang bersih, sehat, produktif, inovatif, dan berdaya saing menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dukung Kemandirian Ekonomi, Tim KKN UMUS Moga Olah Limbah Nanas Jadi Sabun Kreatif

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

PEMALANG – Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal direalisasikan oleh TIM KKN Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Kecamatan Moga. Pada Minggu, 12 Juli 2026, mereka resmi meluncurkan program kerja unggulan bertajuk EKONAS (Ekonomi Kreatif dari Limbah Nanas). Acara peluncuran ini melibatkan kolaborasi aktif antara mahasiswa KKN, perangkat desa, serta warga dari Desa Moga dan Desa Banyumudal.

​Rangkaian kegiatan yang dipusatkan di pemukiman warga tersebut diawali dengan Senam Sehat Bersama pada pagi hari. Musik yang enerjik dan gerakan instruktur yang dinamis menarik kehadiran puluhan warga yang memadati lokasi sejak pagi.

​Menurut perwakilan mahasiswa, King Ahmad Cahyono, selain untuk menjaga kebugaran fisik, senam bersama ini dirancang sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan antara mahasiswa KKN dengan masyarakat setempat.

​Setelah kegiatan senam, agenda langsung bergeser ke sesi inti, yaitu Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan EKONAS. Langkah ini menjadi penting mengingat buah nanas merupakan salah satu komoditas unggulan di wilayah Kecamatan Moga, namun kulit dan bagian limbahnya kerap kali dibuang begitu saja tanpa nilai guna. Melalui program EKONAS, TIM KKN UMUS mendemonstrasikan cara mengolah limbah nanas tersebut menjadi produk sabun kreatif bernilai ekonomi tinggi.

​Produk EKONAS yang diperkenalkan hadir dalam bentuk varian Briliant Ekonas dengan metode pengolahan kreatif. Sabun berbasis limbah kulit nanas ini memiliki beberapa keunggulan teknis, di antaranya efisien membersihkan lemak, memiliki aroma nanas segar alami (Pina-Scent), serta lembut di tangan dengan formulasi pH seimbang untuk mencegah iritasi.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

​Inovasi teknologi ekstraksi yang diterapkan mahasiswa KKN UMUS memungkinkan diversifikasi produk menjadi beberapa varian aplikasi, meliputi:

​Sabun Cair Tangan Mewah
​Sabun Mandi Batang Artisan
​Sabun Cair Tubuh Aromatik
​Pembersih Alat Makan Premium

Koordinator Desa (Kordes), King IDI Salis, menyampaikan bahwa antusiasme warga dalam sesi pelatihan ini sangat tinggi. Berbagai elemen masyarakat turut hadir memeriahkan dan mempraktikkan langsung proses pembuatan produk EKONAS. Di antaranya tampak hadir Ibu Sri Rejeki selaku Ibu RW 03, Ibu RT 02, serta tokoh masyarakat dan ibu-ibu kader setempat yang menyimak setiap instruksi dari mahasiswa.

​Program berbasis ekonomi sirkular dan keramahan lingkungan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat karena dinilai memberikan solusi yang aplikatif bagi pengurangan sampah organik sekaligus membuka peluang kemitraan UMKM baru.

​”Program seperti ini sangat kami butuhkan. Selain mengurangi sampah organik di lingkungan kami, pelatihan EKONAS membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu di sini untuk menambah pemasukan keluarga dengan bahan baku yang sangat mudah didapat,” ujar Ibu Sri Rejeki di sela-sela kegiatan praktikum pembuatan produk.

Sinergi Mahasiswa dan Pemerintah Desa: Tim KKN UMUS “Moga Berkah Barokah” Sukses Sosialisasikan Program GUMUS di Desa Banyumudal

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

PEMALANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes kelompok “Moga Berkah Barokah” resmi meluncurkan salah satu program kerja unggulan mereka yang berfokus pada lingkungan, yaitu GUMUS (Gerakan Mengelola Sampah Mahasiswa UMUS).

Sosialisasi program unggulan ini dilaksanakan di Balai Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, dan dihadiri langsung oleh jajaran perangkat desa setempat serta seluruh mahasiswa KKN.

Program GUMUS diinisiasi sebagai langkah nyata mahasiswa dalam merespons isu lingkungan hidup, khususnya penanganan dan pengelolaan sampah di tingkat desa. Melalui sosialisasi ini, Tim KKN memaparkan strategi pengelolaan sampah yang adaptif, efektif, dan memiliki nilai guna, dengan harapan program ini dapat diintegrasikan ke dalam program lingkungan Desa Banyumudal.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Kepala Dusun (Kadus) Banyumudal, Adiyat, menyambut baik inisiatif yang dibawa oleh para mahasiswa tersebut. Pihak pemerintah desa menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi demi menciptakan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkah.

Dukungan senada juga disampaikan oleh Ketua RT 04, Nurahman. Ia mengapresiasi kehadiran program GUMUS ini di wilayahnya.
“Kegiatan ini sangat positif. Kami berharap program pengelolaan sampah ini bisa berjalan berkelanjutan di tingkat RT dan RW,” ujar Nurahman.

Sementara itu, Koordinator Desa (Kordes) KKN UMUS Banyumudal, King Idi Salis, menegaskan bahwa kesuksesan program ini sangat bergantung pada sinergi antara mahasiswa dan masyarakat.

“Langkah awal menuju perubahan dimulai dari kolaborasi. Melalui GUMUS, kami ingin membangun kesadaran kolektif dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kecamatan Moga, khususnya di Desa Banyumudal,” ungkap King Idi Salis.

Acara sosialisasi tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen dan sinergi awal antara civitas akademika UMUS dan Pemerintah Desa Banyumudal dalam mewujudkan perubahan lingkungan yang lebih baik.

Lanal Tegal dan UMUS Brebes Survei Lahan Kalibakung, Siapkan Penanaman Kedelai untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

BREBES – Sinergi antara Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tegal dan Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes terus diperkuat dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Sebagai langkah awal, tim melaksanakan survei dan pengambilan sampel tanah di kawasan Kalibakung pada Kamis pagi, sebagai persiapan program penanaman kedelai yang menjadi bagian dari penguatan sektor pangan strategis.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Komandan Lanal Tegal, Letkol Laut (P) Tato Taufiqurochman, yang menekankan pentingnya pemetaan potensi lahan sebelum pelaksanaan budidaya. Melalui pendekatan berbasis data, setiap tahapan diharapkan mampu menghasilkan program pertanian yang efektif, produktif, dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaan survei yang dipimpin oleh Wadanlanal Mayor Laut Taufik, Danposal Kluwut Brebes, Lettu Laut (P) Dwi Budi Christianto, memimpin koordinasi lapangan bersama tim. Dari pihak UMUS Brebes, kegiatan didampingi langsung oleh Dekan Fakultas Pangan dan Ilmu Kesehatan (PIKES) Dr. El Yan Unzilatirizqi Dewantoro, M.Sc., Ketua Program Studi Ilmu Teknologi Pangan, Ketua Program Studi Agribisnis, serta Prof. Dr. Pranoto.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Survei dan pengambilan sampel tanah dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kesuburan, kondisi fisik, serta kandungan unsur hara lahan yang akan digunakan sebagai lokasi penanaman kedelai. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis dalam menentukan pola budidaya yang sesuai sehingga produktivitas lahan dapat dioptimalkan.

Dr. El Yan Unzilatirizqi Dewantoro, M.Sc. menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam program ini merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi dalam menghadirkan solusi berbasis riset terhadap isu ketahanan pangan.

“Pengembangan pertanian modern harus diawali dengan kajian ilmiah. Analisis tanah menjadi fondasi penting agar setiap keputusan budidaya memiliki dasar akademik yang kuat dan mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” ujarnya.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Sementara itu, Lettu Laut (P) Dwi Budi Christianto menyampaikan bahwa kolaborasi antara TNI AL dan perguruan tinggi menjadi kekuatan strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Sinergi ini diharapkan mampu mengintegrasikan disiplin lapangan dengan inovasi dan hasil riset akademik.

Melalui kegiatan survei di lahan Kalibakung ini, Lanal Tegal dan UMUS Brebes menunjukkan komitmen bersama untuk membangun sistem pertanian berbasis ilmu pengetahuan. Program penanaman kedelai yang akan dilaksanakan diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjadi model kolaborasi antara institusi pertahanan dan perguruan tinggi dalam mendukung terwujudnya kedaulatan pangan Indonesia.

Inovasi Riset Bawang Merah UMUS Warnai FGD BRIDA Jawa Tengah, Dorong Transformasi Komoditas Lokal Menuju Ekonomi Hijau

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

SEMARANG — Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan riset terapan berbasis potensi lokal melalui partisipasi aktif pada Focus Group Discussion (FGD) Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah yang mengangkat tema Transformasi Bawang Merah Menuju Ekonomi Hijau.

Forum strategis tersebut mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, peneliti, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan arah pengembangan komoditas bawang merah yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan, inovasi, hilirisasi, dan ekonomi sirkular. Agenda ini sejalan dengan upaya BRIDA Jawa Tengah memperkuat ekosistem riset dan inovasi daerah melalui kolaborasi multipihak.

Dalam forum tersebut, tim peneliti UMUS mempresentasikan berbagai hasil riset inovatif berbasis bawang merah Brebes yang telah dikembangkan sebagai solusi atas tantangan sektor pertanian sekaligus membuka peluang lahirnya produk bernilai tambah.

Beragam inovasi yang dipaparkan meliputi pemanfaatan limbah kulit bawang merah menjadi produk pangan fungsional kaya antioksidan, pengembangan pakan ternak berbasis limbah bawang merah, hingga berbagai inovasi hilirisasi yang mendukung pengurangan limbah pertanian dan peningkatan nilai ekonomi komoditas unggulan daerah.

(Dok. HUMAS UMUS Brebes)

Keikutsertaan UMUS dalam FGD tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai knowledge partner dalam menghasilkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan menjadi solusi nyata yang dapat diimplementasikan oleh petani, pelaku UMKM, industri, maupun pemerintah daerah.

Diskusi juga menyoroti pentingnya memperkuat rantai nilai bawang merah melalui pendekatan ekonomi hijau. Paradigma baru tersebut menempatkan komoditas pertanian tidak hanya sebagai produk konsumsi, tetapi sebagai sumber inovasi yang mampu menghasilkan produk pangan, kesehatan, pakan, hingga bahan baku industri yang ramah lingkungan.

Bagi Kabupaten Brebes sebagai sentra bawang merah nasional, transformasi ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan daya saing daerah melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hilirisasi hasil riset diharapkan mampu menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, mengurangi limbah, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Partisipasi UMUS dalam forum BRIDA Jawa Tengah sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ekosistem riset yang berdampak serta mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal.

Melalui semangat riset untuk masyarakat, UMUS terus menghadirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah, memperkuat posisi Brebes sebagai pusat inovasi bawang merah nasional, sekaligus mendukung terwujudnya transformasi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.

LPPM UMUS Perkuat Dampak Pengabdian, Monitoring dan Evaluasi KKN 2026 Tekankan Inovasi, Kolaborasi, dan Keberlanjutan Program

(Dok. LPPM UMUS)

BREBES — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026 di berbagai desa lokasi KKN di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen LPPM dalam memastikan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa.

Tim Monitoring dan Evaluasi turun langsung ke lapangan untuk meninjau implementasi program kerja mahasiswa, berdialog dengan pemerintah desa, dosen pembimbing lapangan, serta masyarakat penerima manfaat. Pendekatan ini dilakukan tidak hanya untuk mengukur ketercapaian program, tetapi juga mengidentifikasi praktik-praktik baik (best practices) yang dapat direplikasi pada pelaksanaan KKN berikutnya.

(Dok. LPPM UMUS)

Dalam proses evaluasi, sejumlah kepala desa memberikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa UMUS yang dinilai mampu menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat. Berbagai program pemberdayaan, edukasi kesehatan, penguatan UMKM, literasi digital, ketahanan pangan, hingga pelestarian lingkungan dinilai memberikan nilai tambah bagi pembangunan desa.

Di sisi lain, Tim Monev juga mencatat berbagai masukan strategis sebagai bahan penyempurnaan penyelenggaraan KKN. Sinkronisasi antara program kerja mahasiswa dengan prioritas pembangunan desa, keberlanjutan program setelah KKN berakhir, serta penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi beberapa poin penting yang mendapat perhatian dalam evaluasi.

Ketua LPPM UMUS menegaskan bahwa Monitoring dan Evaluasi bukan sekadar agenda administratif, melainkan instrumen peningkatan mutu pengabdian kepada masyarakat.

(Dok. LPPM UMUS)

“KKN harus menjadi laboratorium sosial yang mampu menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Karena itu, evaluasi dilakukan agar setiap program benar-benar relevan, berdampak, dan berkelanjutan bagi masyarakat.”

Pelaksanaan Monev juga menjadi momentum refleksi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, serta kemampuan memecahkan persoalan riil di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk lulusan yang adaptif, inovatif, dan memiliki kepedulian sosial.

Melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi ini, LPPM UMUS berharap pelaksanaan KKN tidak hanya menghasilkan luaran program, tetapi juga memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan pemberdayaan yang berkelanjutan.

Semangat kolaborasi yang dibangun selama KKN 2026 menjadi bukti bahwa kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan menghadirkan solusi, memberdayakan potensi lokal, serta mengakselerasi pembangunan desa menuju masyarakat yang mandiri, produktif dan berdaya saing.

× Penerimaan Mahasiswa Baru 2025