Seminar Nasional Leadership Talk – “Membangun dan Memandirikan Indonesia”

Universitas Muhadi Setiabudi selalu berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang berkompeten sesuai bidang keilmuannya sehingga dapat bersaing dalam dunia kerja ataupun wirausaha dengan lulusan dari kampus lain. Selain berkompeten, Universitas Muhadi Setiabudi juga berkomitmen untuk mendidik mahasiswa-mahasiswanya sehingga memiliki jiwa kepeminpinan. Hal ini karena kepemimpinan merupakan keahlian yang harus dimiliki oleh setiap orang. Bukan hanya tentang pemimpin negara, pemimpin daerah, atau pemimpin perusahaan, namun minimal akan menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Kepemimpinan tidak datang dengan sendirinya, namun harus selalu ditanamkan, dipelajari, dan dilatih. Dalam hal ini, fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhadi Setaibudi memfasilitasi mahasiswa yang ingin mencari dan mendalami ilmu lebih lanjut tentang kepemimpinan dengan mengadakan seminar nasional leadership. Acara dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2019 bertempat di auditorium Universitas Muhadi Setiabudi. Acara dihadiri dari kalangan mahasiswa dan umum baik dari Universitas Muhadi Setiabudi maupun luar kampus.

Acara seminar nasional leadership ini mengusung tema “Membangun dan Memandirikan Indonesia” dan menghadirkan pembicara Prof. Dr. Syarifudin Tippe, M.Si.. Beliau merupakan purnawirawan TNI yang lahir di Sinjai (Sulawesi Selatan) pada 17 Juli 1953. Selain berkecimpung di dunia TNI, beliau juga pernah menjabat sebagai Dirjen Strategi Pertahanan, Departemen Pertahanan Republik Indonesia pada tahun 2008-2011. Dalam dunia akademik, beliau juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Pertahanan Indonesia ke-1 pada tahun 2009 – 2012. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Jayabaya dari tahun 2014 sampai sekarang, dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta dari tahun 2015 – sekarang.

Seminar yang disampaikan berjudul “Generasi Milenial Mengisi Bisnis 4.0 Berbasis Bela Negara”. Apa hubungannya antara leadership, bisnis 4.0, dan bela negara?

Seminar diawali dengan pemaparan terbentuknya sistem sosial dan sistem ekonomi liberal di tengah masyarakat pancasila. Mengapa dikatakan sulit mewujudkan kebutuhan ekonomi nasional? Hal itu karena negara-negara yang memiliki paham liberal, contohnya Amerika, ingin menyebarkan paham tersebut pada negara berkembang, dalam hal ini Indonesia. Paham liberalism ini telah memasuki semua bidang kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini dilakukan sejak Indonesia merdeka.

Dampak dari penerapan Sistem Ekonomi Liberal tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan ekonomi, yang  secara singkat dapat ditunjukkan melalui tingkat pendapatan masyarakat, yaitu kesenjangan antara golongan masyarakat minoritas berpendapatan tinggi dengan golongan masyarakat mayoritas berpendapatan rendah. Upaya pemerintah untuk mengatasi kesenjangan tersebut selalu ada bagi setiap pemerintahan. Setiap kali pergantian pemerintahan sejak presiden pertama hingga presiden ketujuh, setiap kali juga diupayakan pendapatan masyarakat ditingkatkan. Namun faktanya, upaya tersebut belum pernah berhasil. Utang negara bahkan semakin membesar dari pemerintahan satu ke pemerintahan berikutnya. Praktik ekonomi liberal di Indonesia  bertentangan dengan Sila Kemanusiaan yang Beradab, Sila kedua Pancasila. Masyarakat bangsa Indonesia tak lagi beradab secara ekonomi, dan karenanya sulit terwujud masyarakat berdasarkan Pancasila. Oleh karena itu, perlu adanya digiatkan kembali Sistem Ekonomi Pancasila dalam Mengisi Posisi Bisnis Era 4.0.

Sistem Ekonomi Pancasila dan Era Industri 4.0 sangat berkaitan dengan bela negara dan leadership. Generasi milenial dalam beberapa tahun ke depan diharapkan dalam melakukan aktivitas bisnisnya harus dapat mengubah mindset dari hanya sekedar konsumen menjadi investor dan produsen. Model ekonomi seperti inilah yang harus dibangun oleh generasi millennial bersama pemerintah, yang disebut sebagai ekonomi konstitusi. Implementasi ekonomi konstitusi dalam ekonomi unicorn misalnya, ke depan, suntikan dananya harus dari kaum millennial atau dari warga negara Indonesia sendiri. Upaya inilah yang harus digelorakan bersama untuk dapat keluar dari cengkeraman ekonomi liberal, yaitu dengan menerapkan ekonomi konstitusi, atau ekonomi Pancasila.

Berdasarkan pada model ekonomi konstitusi yang berbasis pada pengamalan nilai-nilai bela Negara, maka :

1). Bisnis 4.0 diharapkan dapat memberikan kemudahan generasi millennial untuk mengembangkan bisnis;

2). Bisnis 4.0 diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan generasi millennial secara gotong royong;

3). Bisnis 4.0 dapat memproteksi dan meningkatkan kewibawaan pemerintah di mata internasional; \

4). Bisnis 4.0 dapat meningkatkan rasa percaya diri sebagai millennial bangsa Indonesia; dan

5). Dengan berbisnis 4.0, generasi millennial dapat secara terhormat mewakili bangsa Indonesia sebagai pengusaha-pengusaha terkemuka di dunia internsional.

Dari pemaparan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menjadi pemimpin, salah satu aspeknya adalah dalam bidang bisnis yang sekarang dalam era revolusi industri 4.0. Pola dan sistem ekonomi yang dianut oleh pebisnis diharapkan dapat mengarah ke perekonomian Pancasila yang sesuai konstitusi, dari hanya sekedar konsumen menjadi investor dan produsen. Perekonomian yang kuat dapat menjadikan kemandirian dan kemudahan dalam membangun, baik pribadi, keluarga, bangsa, dan negara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *